Posted by: teddykw | 26 February, 2008

Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence Theory)

Teori Spiral Keheningan ini dapat diuraikan sebagai berikut: individu memiliki opini tentang berbagai isu. Akan tetapi, ketakutan akan terisolasi menentukan apakah individu itu akan mengekspresikan opini-opininya secara umum. Untuk meminimalkan kemungkinan terisolasi, individu-individu itu mencari dukungan bagi opini mereka dari lingkung­annya, terutama dari media massa.

Media massa – dengan bias kekiri-kirian mereka – memberikan interpretasi yang salah pada individu-individu itu tentang perbedaan yang sebenarnya dalam opini publik pada berbagai isu. Media mendukung opini-opini kelompok kiri dan biasanya menggambarkan kelompok tersebut dalam posisi yang dominan.

Sebagai akibatnya, individu-individu itu mungkin mengira apa yang sesungguhnya posisi mayoritas sebagai opini suatu kelompok minoritas. Dengan berlalunya waktu, maka lebih banyak orang akan percaya pada opini yang tidak didukung oleh media massa itu, dan mereka tidak lagi mengekspresikan pandangan mereka secara umum karena takut akan terisolasi. Selama waktu tersebut, karena ‘mayoritas yang bisu’ tetap diam, ide minoritas mendominasi diskusi. Yang terjadi kemudian, apa yang pada mulanya menjadi opini minoritas, di kemudian hari dapat menjadi dominan.

Spiral keheningan mengajak kita kembali kepada teori media massa yang perkasa, yang mempengaruhi hampir setiap orang dengan cara yang sama (Noelle-Meumann, 1973)

Orang-orang yang tidak terpengaruh oleh spiral kebisuan ini ialah orang-orang yang dikenal sebagai avant garde dan hard core. Yang dimaksud dengan avant garde di sini ialah orang-orang yang merasa bahwa posisi mereka akan semakin kuat, sedangkan orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok hard core ialah mereka yang selalu menentang, apa pun konsekuensinya (Noelle-Neumann, 1984).

Noelle-Newman (1984) menyatakan bahwa kekuatan media massa diperoleh dari: (1) kehadirannya di mana-mana (ubiquity); (2) pengulangan pesan yang sama dalam suatu waktu (kumulasi); dan (3) konsensus (konsonan) tentang nilai-nilai kiri di antara mereka yang bekerja dalam media massa, yang kemudian direfleksikan dalam isi media massa.Bukti-bukti yang diungkapkan oleh Noelle-Newmann (1980, 1981) diperoleh dari Jerman Barat, meskipun ia menyatakan bahwa “konsonan” itu iuga berlaku bagi demokrasi parlementer Barat dan sistem media yang dikontrol pemerintah. Tidaklah jelas apakah ia juga akan memperluas teorinya agar mencakup negara-negara yang sedang berkembang. Namun untuk kasus di Indonesia, masa peralihan pemerintahan Megawati ke Susilo Bambang Yudhoyono memiliki sisi-sisi yang cukup relevan dengan asumsi teori ini.

Ada beberapa ketidaksepakatan tentang kelayakan teori dan metodologi karya Noelle-Newmann ini. Pengritik melihat bahwa formulasi teorinya tidak lengkap, dan konsep-konsep utamanya tidak dijelaskan dengan memadai. Di samping itu, spiral kebisuan, sebagai teori opini publik, dikelompokkan bersama perspektifnya yang lain tentang masyarakat dan media massa. Di pihak lain, spiral kebisuan ini memperlakukan opini publik sebagai suatu proses dan bukan sebagai sesuatu yang statis. Perspektif itu juga memperhatikan dinamika produksi media dengan pembentukan opini publik (Glynn dan McLeod, 1985; Katz, 1981; Salmon dan Kline, 1983). Studi yang belum lama ini dilakukan memberi dukungan empirik pada teori spiral kebisuan. Dalam evaluasi masalah-masalah yang dihadapi oleh suatu komunitas di Waukegan, Illinois, Taylor (1982) menemukan bahwa orang-orang yang merasa opininya mendapat dukungan mayoritas akan lebih berani mengungkapkan pendapatnya. Demikian juga dengan orang-orang yang merasa bahwa opininya akan mendapat dukungan di kemudian hari (misalnya kelompok avant garde). Dengan cara yang serupa, Glynn dan McLeod (1985) menemukan bahwa persepsi tentang apa yang dipercayai orang lain akan mempengaruhi ekspresi opini dan pemungutan suara. Mereka juga menemukan bahwa kelompok hard core di antara para pemilih lebih suka mendiskusikan kampanye politik daripada yang lain. Yang dimaksud dengan hard core di sini ialah orang-orang yang secara eksplisit menyukai seorang kandidat setelah melalui beberakali wawancara. Di samping itu, Glenn dan McLeod (1985) melaporkan juga bahwa responden­-responden mereka lebih suka melibatkan diri dalam diskusi-diskusi politik dalam suatu pertemuan, jika orang-orang lain yang hadir di situ pandangannya sejalan dengan pandangan mereka.


Responses

  1. blognya inspiratif

  2. Terima kasih, ini buat tugas Teori komunikasi

  3. thanx, buat blognya…semakin mengerti tntang spiral kebisuan!

  4. iya ini jg bwt tugas tekom(teori komunukasi)
    huahuahuahuahua….sama betty…
    betty anak mana ?
    betty lavea..
    wkwkwkwkwk

  5. buat tugas tekom juga nih

  6. terima kasih
    buat tugas tekom juga nih

  7. thx buat infox..pentibg banget buat masukan ke depan..
    ^^

  8. permisi, boleh mengambil isi disini . buat tugas teori komunikasi,dan saya minta ijin mengcopy nya.bila ada apa-apa tolong hubungi via blogspot ya, anda tulis saja komentar disitu. terima kasih atas postingannya,wassalam

    • mangga silahkan saja. kutip saja sumbernya

  9. sekitar dua tahun lalu saya mengutip 2 tulisan anda (teori spiral keheningan dan muted theory) untuk melengkapi handout yg saya susun sebagai pegangan mhs saya sendiri….di samping sejumlah teori yang memang dikompilasi dari tulisan2 teman dan sejumlah buku lainnya….untuk itu saya mengucapkan terimakasih banyak…maaf kalo baru komen sekarang…*seingat saya dulu pernah nulis komen juga*

    saya ingin kontak dengan anda lebih lanjut via email..trims

  10. wahhh mksh byk atas materinya. saya sedikit mengutip materi anda untuk presentasi saya.
    mksh ya brkat bLog anda presentasi tekom sya bisa terselesaikan dgn baik. terima ksh sX Lg

  11. trims, mau buat tulisan untuk ini

  12. bagus buat dapetin ide :) sangat bermanfaat

  13. thanks banget sangat inspiratif dan membantu saya mengerjakan tugas teori komunikasi

  14. […] http://teddykw1.wordpress.com/2008/02/26/teori-spiral-keheningan-spiral-of-silence-theory/ (4 maret […]

  15. Thanks sangat membantu pemahaman saya dlm teori komunikasi :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: